Tampilkan postingan dengan label loewy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label loewy. Tampilkan semua postingan

24 Agustus 2010

The Dim Sum Guide

By: Grant Y

If you’ve ever ventured into an authentic Chinese restaurant or have passed by one on the weekend, you’ve probably seen or heard of the phrase “dim sum”. For many people, the strange phrase alone is enough to cause eyebrows to arch, heads to shake and stomachs to become uneasy. While it’s completely natural to err on the side of caution when it comes to new and exotic foods, the good news is that dim sum is probably some of the best-tasting Chinese food that you’ll encounter in your adventures.

So what exactly is dim sum, you ask? It’s been described as the Chinese version of tapas (small plates of Spanish dishes), or small delicacies or snack food. Usually offered during weekend brunch, dim sum is a collection of small Chinese dishes that are usually steamed, baked or fried. Dim sum often features meat dishes, pastries and desserts that you won’t normally see on a restaurant menu otherwise.

Whether you are completely new to dim sum or are an experienced foodie looking to expand your taste buds, our guide will walk you through the perils, pitfalls and joys of finding the best dim sum around. So sit back, relax and let’s begin!

Source: www.chefseattle.com

See also: dim sum, loewy, table 8

23 Agustus 2010

Beruang Tak Lewatkan Peluang, Harimau Suka Buruan yang Wow

By: Ratih

Saat ini dongeng sebelum tidur semakin jarang dilakukan karena banyaknya media elektronik yang “menemani” anak sebagai pengantar tidur. Padahal dongeng sebelum tidur merupakan salah satu cara internalisasi nilai atau penanaman norma sejak dini. Bagi kamu yang masih punya adik kecil, keponakan atau bahkan sudah punya anak, anak-anak murid (kalau cucu belum kali ya.. we're not that old...). Salah satu cerita ini merupakan kisah klasik dari Cina yang bagus untuk diceritakan pada mereka. Dongeng ini saya baca dalam salah satu buku Cina.


Seekor beruang berdiam diri di pinggir sungai. Ia makan ikan-ikan kecil yang lewat dalam sungai tersebut. Perlahan tapi pasti dia selalu mendapatkan makanan meski apa yang dia peroleh bukan ikan-ikan besar. Hal ini diketahui oleh seekor harimau yang selalu mendapatkan buruan yang besar. Harimau merasa heran dengan beruang yang mau saja makan ikan-ikan kecil.


“Beruang..apa yang kau lakukan disini? Apa yang kau dapat tak sebanding dengan pengorbanan kamu berdiri terus di pinggir sungai. Lebih baik kamu berburu denganku. Aku biasanya mendapatkan rusa besar dalam satu kali buruan,” ajak Harimau pada Beruang.


“O ya? Rusa itu kamu peroleh kapan saja?” tanya Beruang mulai tertarik dengan tawaran Harimau.

“Tentu saja tidak, kita harus memiliki strategi yang matang, tim yang solid dan mau menunggu karena rombongan rusa hanya lewat satu kali sebulan.”

“Satu kali sebulan?” Beruang mulai berpikir, pilihan mana yang lebih baik, ikan kecil yang sudah pasti ia peroleh atau rusa besar yang hanya satu kali dalam sebulan? Bagaimana dengan hari-hari selama bulan tanpa korban buruan? Beruang ini bukan jenis beruang yang hibernasi selama 3 bulan setelah memperoleh makanan. Beruang ini hanyalah beruang biasa yang hidup seperti layaknya hewan hutan lainnya, hari-hari dilalui dengan bangun dan tidur. “Seandainya aku beruang yang bisa hibernasi, tentu aku akan ikut harimau. Ah, lihatlah tubuh harimau itu begitu kurus kering, mungkin karena ia hanya mau menikmati buruan besar saja,” pikir beruang.


“Wah..sebulan sekali? Maaf ya harimau aku tidak bisa menjadi harimau yang gesit berlari. Aku juga tidak sepintar kamu dalam berstrategi menangkap rusa, aku juga tidak punya tim yang solid untuk menangkap rusa. Lagipula, aku takkan melepas ikan-ikan kecil ini untuk rusa yang belum tentu ada setiap hari. Tubuhku menjadi sebesar ini karena aku setiap hari memakan ikan kecil yang bisa kuperoleh. Aku tak memimpikan buruan besar yang tak mungkin kuperoleh dengan diriku berkemampuan seperti ini.”


Harimau merasa heran dengan keputusan beruang menolak ajakannya yang menggiurkan. Beruang merasa tak rugi apapun karena menolak ajakan harimau. Nah, dari ilustrasi ini coba tanyakan pada anak-anak kecil yang didongengi, mau menjadi seperti hewan apakah ia? Tentu saja, setiap jawaban tak ada yang benar atau salah. Pilihan untuk menjadi salah satu hewan pastinya beralasan, tergantung dari kemampuan masing-masing. Beruang menolak ajakan harimau karena dia hanya mau menjadi beruang penyuka ikan yang baik, harimau mengajak beruang karena dipikirnya ia memiliki buruan besar yang biasanya diinginkan juga oleh hewan-hewan lain. So, just be yourself. Be your best self.

Lihat juga: seafood, loewy, table 8

20 Agustus 2010

An Easy Way to Buy Sustainable Seafood

After I spoke with Casson Trenor a couple of weeks ago, we both became aware of Martin Reed, who has just started a business called I Love Blue Sea. Mr. Reed is a retailer who’s doing the work for you, buying and selling seafood he has verified as sustainable.

There’s a lot of appeal in this business, which is only a few weeks old, and Web-based (the physical location is in San Francisco). Mr. Reed’s goal, other than to make a living, is “to be a pioneer in selling only sustainable seafood, and in being upfront about where things come from and how they’re caught.”

Sounds good. But I had two questions. One: How do you know what you’re buying? His answer: “We use all third party standards, like those of Greenpeace (nothing from the “red list”) and the Monterey Bay Aquarium (no “avoid” fish) ” If he knows that “pirating” (as illegal fishing is called) is big with a certain species, he won’t sell it at all. (Thus, no yellowfin.) And he is insisting that suppliers sell him only fish that can be traced — individually — through bills of lading and bar codes.

Makes sense to me.

The second question concerns cost. The seafood on Mr. Reed’s site is quite fairly priced when you consider that it’s the kind of seafood we want to be buying. The selection is good, too – not as broad as in many big seafood markets, but then again, you’re not worrying about the source. There is occasionally some farm-raised fish where the wild resource is sustainable, and to me this doesn’t make sense, but remember he’s buying West Coast fish and I’m an East Coast person, so our experiences are different.

But the shipping necessarily includes frozen gel-packs and insulated boxes, which add considerably to weight and volume — thus making overnight Fedex charges high: fifty bucks, in the case of my sample order, which was for fish that cost about the same amount.

This is obviously not Mr. Reed’s fault, but it is his problem. He acknowledges this, but says that “After you get to five or ten pounds of product your order will be less expensive than if you bought a similar product at a supermarket.” I don’t know about that, but what is for sure is that, as he says, “There aren’t similar offerings in most parts of the country.”

Mr. Reed says, “We want to change the way the seafood industry works,” and I believe this is our only hope. If you think about what the word “sustainable” means, and you accept the notion that for the most part, the current state of the seafood industry is anything but, it is accountability on the part of purchasers that can move the industry in the right direction. And by taking on a bigger share of the responsibility, retailers like Mr. Reed make it easier for consumers to do the right thing.

Source: dinersjournal.blogs.nytimes.com


See Also: loewy, table 8


18 Agustus 2010

Review From Member6

Pernah tau Pasir Putih di Kemang, nah kalo lo pada lewat sini udh ga bakal nemu yg namanya Pasir Putih, yg dulu nya pasir doank skrg udh jadi bangunan..tongue

Yak sekarang sudah berubah menjadi resto yg bernama D'Spice, dalemnya ga sebesar Pasir Putih gtu, tp nyaman bgt, tetep ada Pool Side nya, jd klo lo bwa cewe kesini di jamin bayar nya doble tongue

Nah waktu itu gw ber3 kesini n makan di pinggir pool side biar dapet foto2 bagus u/ OpenRicers..Ini dia ne yg gw pesen..Cekidot :

bowlchopstickNasi Timbel (IDR 45.000)
Ini dia ne yg gw makan..Waaa...gw jadi kangen sama Ayam Grill & Empal Grill plus Sambel Ikan Teri nya..Ayam & Empal nya enak bgt..Empuk & bumbu nya meresap sampai ke daging. Trus dimakan dengan nasi timbel di temani dengan sambel ikan teri nya..Beeeuuuhhh mantaf..Must try!!


bowlchopstickEmpal Gentong (IDR 39.000)
Nah ini yg makan temen gw namanya Ari, gw sempet nyobain dikit biar bsa di review di sini. Terus terang gw blm pernah ngerasain empal gentong itu seperti apa. Tapi menurut gw enak, tp kuah nya mirip soto betawi, kentel2..yg peting daging empal nya banyak..mantaf.

bowlchopstickVietnamesse Beef Pho Noodle (IDR 34.500)
Ini makanan temen gw yg satu lagi, dan lagi2 gw cobain..Dasar ga tau malu minta2 molo tongue
Seperti hal nya Pho Noodle yg lain, dengan rasa khas masakan vietnam yg plain alias dengan rasa bumbu yg tidak terlalu menonjol tetapi noodle nya yg khas menjadi cita rasa tersendiri untuk penggemar Pho Noodle. So untuk lo yg penggemar Pho Noodle disini silahkan di coba.

bowlchopstickThai Three in One Salad (IDR 24.000)
Nah ini dia yg disebut iseng2 berhadiah. Nah klo lo pesen ini dgn teman lo ber3. Jgn pilih Papaya salad nya krn ga ada isi daging nya tongue
Kalo yg Mango Slad nya di dalamnya ada udang nya, kalo Thai Salad nya ada beef nya. Mantab dan seger.

bowlchopstickBeverages (IDR 24.500)
Rata2 mocktail disini harga nya 24000..seger dan serasa di pantai.

So..this recommended dining with great Place..great taste..smile


Source: www.id.openrice.com


See also: loewy, table 8

05 Agustus 2010

Chinese Hot Pot

Hot pot (Chinese: 火鍋; pinyin: huǒ guō), less commonly Chinese fondue or steamboat, refers to several East Asian varieties of stew, consisting of a simmering metal pot of stock at the center of the dining table. While the hot pot is kept simmering, ingredients are placed into the pot and are cooked at the table. Typical hot pot dishes include thinly sliced meat, leafy vegetables, mushrooms, wontons, egg dumplings, and seafood. The cooked food is usually eaten with a dipping sauce. In many areas, hot pot meals are often eaten in the winter.


History

The Chinese hot pot boasts a history of more than 1000 years. While often called "Mongolian hot pot”, it is unclear if the dish actually originates in Mongolia. Mongol warriors had been known to cook with their helmets, which they used to boil food, but due to the complexity and specialization of the utensils and the method of eating it, hot pot cooking is much better suited to a sedentary culture. A nomadic household will avoid such highly specialized tools, to save volume and weight during migration. Both the preparation method and the required equipment are unknown in the cuisine of Mongolia of today.

Hot pot cooking seems to have spread to northern China during the Tang Dynasty (A.D. 618-906). In time, regional variations developed with different ingredients such as seafood. By the Qing Dynasty, the hot pot became popular throughout most of China. Today in many modern homes, particularly in the big cities, the traditional coal-heated steamboat or hot pot has been replaced by electric, gas or induction cooker versions.

Because hot pot styles change so much from region to region, many different ingredients are used.

Source: www.wikipedia.com

See also: loewy, table 8, chinese food



26 Juli 2010

Peringatan Hari Anak Nasional: Hak Anak untuk Sehat Berprestasi

Tanggal 23 Juli ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN) berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984. Tema tahun ini adalah: Anak Indonesia Belajar untuk Masa Depan, dan sub tema: Kami Anak Indonesia, Jujur, Berakhlak Mulia, Cerdas, dan Berprestasi. Untuk itu, jaminan pemenuhuan hak-hak anak untuk memperoleh pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan dan perlindungan yang bermutu harus terus kita upayakan (Pedoman HAN. 2010).

Salah satu faktor penting dalam rangka menjamin anak-anak yang berprestasi adalah dengan menyediakan makanan bergizi bagi mereka. Tentu, bahan bakunya harus terjamin bersih. Salah satu restoran di Jakarta ini dikenal selektif memilih bahan baku. Selain itu, jaminan kebersihan bahan dan lingkungan pun tak diragukan lagi.

Anak-anak yang berprestasi adalah anak-anak yang memiliki waktu belajar dan bermain. Tentunya lingkungan rumah dan sekolah selayaknya mendukung fasilitas mereka. Bukan sekedar fasilitas materi tapi juga pemenuhuan kebutuhan kasih sayang. Kasih sayang pada anak ini diekspresikan dengan berbagai cara. Setiap keluarga memiliki keunikan sendiri. Mereka mengungkapkan dengan mendengarkan pendapat anak atau memenuhi kemauan anak bila berprestasi. Satu paket yang tepat bisa anda peroleh disini, selain menyediakan makanan sehat bergizi, tempat ini juga memiliki bonus jam tangan anak. Sehingga mereka bisa membagi waktu antara belajar dan bermain. (Ratih)

KIDZU BENTO FUN HOURS SERIES. Dobel Seru !!! BARU HADIAHnya, BARU MENUnya.

Mulai 17 Mei 2010, hanya dengan membeli paket KIDZU BENTO seharga Rp. 18.182,-*, kamu bisa dapatkan salah satu jam tangan Fun Farm yang lucu-lucu. Ada Momoow & Kokekko.





Lihat juga: Loewy, Table 8

22 Juli 2010

Our Yummy Seafood

Seafood refers to any sea animal or plant that is served as food and eaten by humans. Seafoods include seawater animals, such as fish and shellfish (including molluscs and crustaceans). By extension, in North America although not generally in the United Kingdom, the term seafood is also applied to similar animals from fresh water and all edible aquatic animals are collectively referred to as seafood.

Edible seaweeds are also seafood, and are widely eaten around the world, especially in Asia. See the category of sea vegetables.

The harvesting of wild seafood is known as fishing and the cultivation and farming of seafood is known as aquaculture, mariculture, or in the case of fish, fish farming. Seafood is often distinguished from meat, although it is still animal and is excluded in a vegetarian diet. Seafood is an important source of protein in many diets around the world, especially in coastal areas.

See also: loewy, table 8

Source: www.wikipedia.com

20 Juli 2010

Nori's Production and Use

Production

Production and processing of nori by current methods is a highly advanced form of agriculture. The biology of Porphyra, although complicated, is well understood, and this knowledge is used to control virtually every step of the production process. Farming takes place in the sea where the Porphyra plants grow attached to nets suspended at the sea surface and where the farmers operate from boats. The plants grow rapidly, requiring about 45 days from "seeding" until the first harvest. Multiple harvests can be taken from a single seeding, typically at about ten-day intervals. Harvesting is accomplished using mechanical harvesters of a variety of configurations. Processing of raw product is mostly accomplished by highly automated machines that accurately duplicate traditional manual processing steps, but with much improved efficiency and consistency. The final product is a paper-thin, black, dried sheet of approximately 18×20 cm (7.087×7.874 in) and 3 grams in weight.

There are several grades of nori available in the United States. The most common, and least expensive, grades are imported from China, costing about six cents per sheet. At the high end, ranging up to ninety cents per sheet, are "delicate shin-nori (nori from the first of the year's several harvests) cultivated in Ariake Bay, off the island of Kyushu in Japan."Like a fine wine, nori available only in Japan can cost up to US$50 per sheet.[citation needed]

In Japan, over 600 square kilometres (230 sq. mi.) of Japanese coastal waters are given to producing 350,000 tonnes (344,470 tons), worth over a billion dollars. China produces about a third of this amount.

Use

Nori is commonly used as a wrap for sushi and onigiri. It is also a common garnish or flavoring in noodle preparations and soups. Nori is most typically toasted prior to consumption ("yaki-nori" in Japanese). A very common and popular secondary product is toasted and flavored nori ("ajitsuke-nori" in Japanese), in which a flavoring mixture (variable, but typically soy sauce, spices, and sugar in the Japanese style or sesame oil and salt in the Korean style) is applied in combination with the toasting process. Nori is also eaten by making it into a soy sauce flavored paste noritsukudani (海苔佃煮).

In addition, nori is sometimes used as a form of food decoration.

A related product, prepared from the unrelated green algae Monostroma and Enteromorpha, is called aonori (青海苔 literally blue/green nori) and is used like herbs on everyday meals like okonomiyaki and yakisoba.


Source: www.wikipedia.com


See Also: Loewy. Sushi Tei



16 Juli 2010

Nasi Goreng Indonesia

Alih Bahasa: Ratih

Nasi goreng merupakan makanan khas Indonesia dan Malaysia. Nasi goreng merupakan nasi dengan campuran bumbu, cabai, dan udang. Nasi goreng merupakan makanan nasional Indonesia yang tak mengenal batas sosial ekonomi. Makanan ini bisa ditemukan di warung nasi kecil hingga restoran mewah di hotel-hotel.

Bahan utama nasi goreng ialah nasi, kecap, bawang merah dan bawang putih dilengkapi dengan penyedap rasa. Nasi goreng dapat dinikmati kapan saja, bagi orang Indonesia, Malaysia dan Singapura nasi goreng dimakan sebagai sarapan. Nasi yang digunakan sebagai bahan utama biasanya adalah nasi yang tidak habis dimakan malam harinya sehingga nasi goreng tidak terlalu lembek.

Di restoran-restoran, nasi goreng disajikan dengan telur, ayam goreng, sate, sayuran dan kerupuk. Sedangkan di warung nasi kecil, nasi goreng istimewa pakai telur.

Source: www.wikipedia.com


Lihat juga: seafood, Table 8, Loewy



14 Juli 2010

Padu Padan Makanan

Alih Bahasa Oleh: Ratih

Pernahkah kamu makan pagi, siang malam dengan menu yang sama? Bisa jadi jawabannya pernah atau tidak pernah. Tanpa kita sadari, kita memilih makanan bukan hanya berdasarkan keinginan tapi juga berdasarkan kategori makanan. Penelitian mengenai makanan dan budaya mengkategorikan makanan menjadi beberapa bagian. Bukan hanya berdasarkan selera pribadi. Berikut kategori makanan menurut hasil penelitian di negara berkembang dan maju:

  1. cultural superfoods: fungsi makanan ini untuk diet;

  2. prestige foods: makanan berprotein tinggi, mahal atau unik;

  3. body image foods: makanan yang dipercaya dapat mempengaruhi kesehatan, kecantikan dan kesejahteraan;

  4. sympathetic magic foods: makanan yang memiliki kesamaan dari segi bentuk dan warna;

  5. physiologic group foods: makanan yang tidak boleh dikonsumsi bagi kelompok tertentu misalnya gender, usia atau kondisi kesehatan.

Kategorisasi ini memudahkan para peneliti mengidentifikasi dan memahami kebiasaan makan dari berbagai kebudayaan, termasuk soal berikut:

  1. frekuensi konsumsi makanan yang digambarkan melalui model makanan utama dan pelengkap;

  2. tradisi budaya dalam mempersiapkan makanan berdasarkan perayaan tertentu;

  3. makanan harian, mingguan, dan tahunan dalam pola makan serta siklus makan;

  4. perubahan dari fungsi-fungsi makanan yang disebabkan oleh perkembangan budaya, diprediksi dari perubahan pandangan tentang budaya makan.

Makanan yang paling sering dikonsumsi diantaranya: nasi, gandum, jagung, dan sayuran. Sedangkan makanan yang luas penyebarannya namun dikonsumsi dengan frekuensi tertentu seminggu sekali ialah: ayam, selada dan apel. Sedangkan makanan yang dikonsumsi sekali-sekali disebut peripheral foods. Sifatnya pilihan pribadi, bukan kebiasaan budaya secara berkelompok. Pada banyak budaya, terutama pada masyarakat agraris, makanan utama disajikan dengan makanan pelengkap untuk menyeimbangkan kadar nutrisi antara makanan utama dan makanan pelengkap. Nasi, roti dan pasta disajikan dengan sayuran atau tomat. Di Cina, nasi dipadukan dengan sayuran, di Itali mie dipadukan dengan saus tomat (spaghetti), di Meksiko tortilla dengan salsa. Padu padan makanan memang bersifat membudaya pada jenis makanan utama dan lauk. Bagaimana denganmu?


Sumber:

Kittler, Pamela Goyan and Kathryn Sucher. 2008. Food and culture. Belmont: Thomson Wadsworth.


Lihat juga: Loewy, Table 8, dim sum


13 Juli 2010

A Chinese buffet restaurant in the United States of America

American Chinese food tends to be cooked very quickly with a great deal of oil and salt[citation needed]. Many dishes are quickly and easily prepared, and require inexpensive ingredients. Stir-frying, pan-frying, and deep-frying tend to be the most common cooking techniques which are all easily done using a wok[citation needed]. The food also has a reputation for high levels of MSG to enhance the flavor. The symptoms of a so-called Chinese restaurant syndrome or "Chinese food syndrome" have been attributed to a glutamate sensitivity, but carefully controlled scientific studies have not demonstrated such negative effects of glutamate[citation needed]. Market forces and customer demand have encouraged many restaurants to offer "MSG Free" or "No MSG" menus.

Most American Chinese establishments cater to non-Chinese customers with menus written in English or containing pictures.[citation needed] If separate Chinese-language menus are available, they typically feature delicacies like liver, chicken feet or other exotic meat dishes that might deter Western customers[citation needed]. In New York's Chinatown, the restaurants were known for having a "phantom" menu with food preferred by Chinese and Chinese Americans, but believed to be disliked by non-Chinese Americans.

American Chinese cuisine often uses ingredients not native and very rarely used in China. One such example is the common use of western broccoli (xi lan, 西蘭) instead of Chinese broccoli (gai lan, 芥蘭) in American Chinese cuisine.[citation needed] Even more divergent are American stir-fry dishes inspired by Chinese food, that may contain brown rice instead of white, with grated cheese; milk products are almost always absent from traditional Chinese food.

Source: www.wikipedia.com

See Also: Loewy, Table 8

12 Juli 2010

Makanan Favoritmu, Lingkunganmu

By: Ratih

Ciri dari identitas seseorang menurut para ahli, salah satunya dilihat dari makanan favorit. Sebab makanan yang kita suka berasal dari lingkungan tempat kita hidup dan bergaul. Benarkah? Kita telisik dari apa yang terjadi di masa lalu baru kemudian kita lihat diri kita sekarang. Sejarah dari rasa berkaitan dengan bagaimana para petani di masa lalu. Cara bagaimana mereka mengatasi tidak pastinya panen, persediaan makanan dan tak menentunya harga-harga. Dari satu tempat ke tempat lain, makanan bervariasi dalam bahan pembuatnya dan cara penyajiannya. Makanan mnerfleksikan lingkungan tempat sebuah masyarakat hidup, meski tak selalu ditentukan olehnya. Masyarakat yang hidup dekat laut cenderung mengkonsumsi ikan daripada mereka yang hidup dekat pegunungan. Pengecualian untuk Pulau Sicily yang masyarakatnya tidak suka mengkonsumsi ikan, dan Inggris di masa lalu begitu menghindari ikan kecuali hanya beberapa spesies saja dengan metode penyajian tertentu. Kondisi lingkungan merupakan satu tantangan tersendiri untuk menciptakan satu jenis makanan baru misalnya di daerah bersalju (Freedman. 2007).


Pandangan masyarakat mengenai makanan dan lingkungan tempat mereka hidup sehari-hari menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan lewati waktu serta benua. Kentang dan kacang dari dunia ketiga diperkenalkan ke Eropa dan Cina melewati berbagai rintangan; kuliner khas Islam ternyata menjadi model bagi makanan Eropa di abad pertengahan. Hubungan antar negara diawali dengan pertukaran jenis makanan, baik bahan makanan ataupun cara penyajiannya. Selain itu, di Portugal makanan terkait dengan filosofi hidup: “Men are not measurable by their size.” So, makanan pun tak dilihat dari besarnya porsi tapi dinikmati dari kuatnya rasa dengan aroma khas demi menyimpan kenangan. Makanan favorit disana: sup sayuran dengan daging. Tak heran, mereka begitu semangat mencari bumbu-bumbu khas keluar dari negerinya. Demi “menyimpan kenangan.” (Wilkins. 1996).


Bagaimana denganmu? Apakah rela berjuang keluar dari zona nyamanmu sehari-hari demi semangkuk sup? Kalau makanan yang kamu cari itu memang enak, worthed untuk diburu. Chinese food kamu bisa hunting di Loewy dan Table 8, sedangkan makanan Eropa di Pizza Hut, Tamani dan Marzano. Keluar dari lingkungan sendiri berarti mengenal “dunia lain,” meski tak usah pergi terlalu jauh dari Jakarta. Lingkungan restoran tentu menawarkan suasana yang berbeda dengan rumah. Suasana yang tak biasa kadang membuat kita ingin datang lagi untuk melepas jenuh dengan rutinitas.


Daftar Pustaka:


Freedman, Paul (Editor). 2007. Food: the History of Taste. California: University of California Press

Wilkins, John. 1996. Food In European Literature. Exeter: Intellect Books.